Jakarta 2045: Smart City for Millenials

    Author Pierre Senjaya
    No GM 619222014
    ISBN 978-602-06-2402-0
    Price Rp 105.000
    Size 14x21cm
    Total Pages 328 pages
    Date Published 11 Mar, 2019
    Category Non Fiction: Social Sciences

Sinopsis

Pada 2045, Indonesia genap berusia 100 tahun. Layaklah Indonesia becermin dan melihat sejarahnya secara utuh, keadaannya “saat ini”, dan menetapkan arah ke mana akan menuju pada masa depan.

Lalu, akan seperti apakah wajah Jakarta? Sebagai ibu kota negara, apakah Jakarta makin pekat oleh polusi dan semrawut karena kemacetan atau makin tertata sistem transportasinya? Apakah kota terbesar di Indonesia ini makin bersih dan indah atau malah makin gerah dan kumuh karena sampah? Bagaimana dengan banjir; apakah sudah dapat dikelola dan diminimalkan dampaknya atau tak ada perubahan sama sekali?

Layaklah juga kita bertanya mengenai penduduknya. Seperti apakah warga Jakarta pada 2045? Apakah menjadi warga kota yang cerdas, kreatif, tertib, dan berbudaya? Ataukah justru tak mampu mengimbangi kemajuan kotanya? Pertanyaan lain, siapakah warga Jakarta? Manakah yang harus diutamakan: kemajuan fisik dan teknologi kota atau manusianya?

Menatap masa depan Jakarta, ada begitu banyak pertanyaan dalam benak kita. Ada pula rupa­rupa sikap dan perasaan yang menyertainya: optimistis, pesimistis, antusias, cemas, dan sebagainya. Meski demikian, gerak sejarah tak terbendung. Jakarta pada 2045, apa pun yang terjadi, akan kita alami.

Jakarta 2045: Smart City for Millennials merupakan suatu bagian dari upaya berbenah dan bersiap diri menyambut peristiwa besar pada 2045, yakni usia seabad Indonesia. Buku ini menjadi bekal berharga, baik bagi pemerintah maupun warga Jakarta, khususnya generasi milenial, dalam mengembangkan Jakarta menjadi smart city. Dengan tiga perspektif, yakni perspektif historis, perspektif masa kini, dan perspektif masa depan, buku ini membantu kita untuk melihat Jakarta secara utuh, peduli dan mencintainya, serta melakukan upaya­upaya terbaik untuk memajukannya.

Agar Jakarta menjadi kota modern yang ideal, prasyarat yang harus terpenuhi adalah keselarasan interaksi antara pemimpin, aparatur sipil, dan warga masyarakat. Pemimpin mengambil kebijakan, aparatur sipil menjadi pelaksana, dan masyarakat berperan sebagai entitas yang mampu mengambil manfaat dari kebijakan tersebut.
—Djarot Saiful Hidayat
Gubernur DKI Jakarta XVI

Letak utama polemik yang terjadi di Jakarta adalah banyak masalah yang tidak ditangani oleh ahlinya, salah satunya kekacauan penataan Jakarta. Oleh karenanya, pada masa depan, aspek Smart Living juga perlu diperhatikan. Jika pemerintah tertib dan tegas dalam menegakkan peraturan, tentu warga akan ikut menjadi tertib dan menaati peraturan.
—Prof. Dr. Ir. Danang Priatmodjo M.Arch.
Dosen llmu Tata Ruang dan Ahli Tata Kota

Saat ini, Jakarta sudah bertransformasi menjadi City 4.0 yang artinya pemerintah tidak hanya mempersiapkan fasilitas perizinan, pelayanan, dan sebagainya, tapi juga menjadi kolaborator yang mempersiapkan platform untuk masyarakat agar bisa berpartisipasi dalam pembangunan Jakarta.
—Setiaji
Kepala UP Jakarta Smart City

Persoalan di Jakarta terlihat sudah seperti benang kusut. Namun, menurut saya, hal tersebut tergantung pada perspektif. Di satu sisi memang betul Jakarta tampak begitu keras. Tetapi, jika kita lihat dari sisi lain, Jakarta memiliki potensi besar di masa depan. Di buku Jakarta 2045 karya Pak Pierre ini, kita—sebagai "motor" penggerak—belajar bagaimana bisa turut berkontribusi membangun dan menggerakkan Jakarta ke arah yang lebih baik. Ubah perspektif, ubah Jakarta.
—Merry Riana
Entrepreneur, Influencer, dan Educator

Related Books